Ekonomi Pembangunan

BAB 1

PENDAHULUAN

Migrasi internasional terjadi secara besar-besaran pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, jutaan bangsa Eropa pergi meninggalkan tanah kelahirannya menuju daerah-daerah baru

(Amerika, Australia) guna mencari kehidupan yang lebih baik. Migrasi ini bukan hanya memperkecil rasio penduduk terhadap lahan di Eropa, tetapi juga menjadi katup pengaman atas ledakan masalah sosial. Para imigran yang berhasil dirantau ternyata tidak lupa kampung halamannya sehingga mereka menjadi faktor penunjang tambahan bagi perkembangan ekonomi dinegara-negara yang sedang maju seperti Italia, Jerman dan Irlandia yang sering dilanda kelaparan atau wabah penyakit ditambah dengan kurangnya lahan serta terbatasnya kesempatan berusaha disektor industri perkotaan, telah memaksa pekerja-pekerja tidak terampil dari pedesaan untuk pindah ke negara-negara lain yang kekurangan tenaga kerja kasar, seperti Amerika Utara dan Australia.

Migrasi internasional dewasa ini memang masih terjadi, namun tidak bisa dikatakan besar-besaran. Masalahnya tidak terletak pada kurangnya pengetahuan para pekerja negara-negara berkembang tentang kesempatan bekerja ditempat lain,khususnya dinegara-negara maju,  melainkan pada jarak geografis yang jauh (membutuhkan biaya besar) dan yang lebih penting adalah adanya sikap rasialis dan peraturan-peraturan imigrasi yang sangat ketat dinegara-negara maju.

Sekurang-kurangnya 35 juta orang dari dunia ketiga telah melakukan migrasi (sebagian besar berhasil mapan) di negara-negara maju sejak tahun 1960. Enam juta orang diantaranya tergolong sebagai “pendatang haram” dan jumlahnya terus meningkat pada periode 1980-1995. Dari sudut pandang negara-negara industri yang menjadi tujuan migrasi, hal itu sudah menjadi masalah serius yang memerlukan langkah penanganan secara drastis. Migrasi internasional bisa memainkan peran positif seperti yang dimainkan oleh migrasi internasional pada sekian dasawarsa yang lampau.

BAB II

POKOK  PERMASALAHAN

Persoalan migrasi yang berkembang pada masa-masa sekarang sangat bertentangan dengan pandangan para ekonom tradisional. Berdasarkan pengamatan terhadap kenyataan-kenyataan kita tidak bisa memandang lagi arus perpindahan tenaga kerja desa-kota sebagai faktor yang positif untuk mengatasi kelebihan permintaan tenaga kerja didaerah perkotaan. Sebaliknya sekarang migrasi harus dilihat sebagai sebuah faktor negatif yaitu ,migrasi menyebabkan surplus tenaga kerja perkotaan secara berlebihan serta sebagai   suatu kekuatan yang secara terus menerus memperburuk masalah-masalah pengangguran diberbagai daerah perkotaan yang pada awalnya bersumber dari ketidakseimbangan struktural dan ekonomi antara daerah-daerah perkotaan dan pedesaan secara langsung dalam dua hal :

  1. Sisi penawaran, migrasi internal secara berlebihan akan meningkatkan jumlah pencari  kerja diperkotaan yang melampaui tingkat atau batasan pertumbuhan penduduk maksimal yang sedianya masih  dapat didukung oleh segenap kegiatan ekonomi dan jasa-jasa pelayanan yang ada didaerah perkotaan.
  2. Sisi permintaan, penciptaan kesempatan kerja didaerah perkotaan lebih sulit dan jauh lebih mahal daripada penciptaan lapangan kerja dipedesaan karena kebanyakan jenis pekerjaan sektor-sektor industri diperkotaan membuthkan aneka input-input komplementer yang sangat banyak jumlah maupaun jenisnya.

Disamping itu terdapat faktor utama yang mempengaruhi (determinan) terjadinya migrasi antara lain :

  1. Proses Migrasi :
    1. Faktor-faktor sosial, termasuk keinginan para imigran untuk melepaskan diri dari kendala-kendala tradisional yang terkandung dalam organisasi-organisasi sosial yang sebelumnya mengungkung mereka.
    2. Faktor-faktor fisik, termasuk pula pengaruh iklim dan bencana meteorologist seperti banjir dan kekeringan.
    3. Faktor-faktor demografi, termasuk penurunan tingkat kematian yang kemudian mempercepat laju pertumbuhan penduduk pedesaan
    4. Faktor-faktor kultural, termasuk pembinaan kelestarian hubungan “keluarga besar” sesampainya diperkotaan dan daya tarik “lampu kota yang terang benderang”.
    5. Faktor-faktor komunikasi, termasuk kualitas segenap sarana transportasi, system pendidikan yang cenderung berorientasi ke kehidupan khas kota dan dampak “modernisasi” yang ditimbulkan oleh aneka perangkat hiburan seperti radio, tv, dan bioskop.
  2. Karakteristik Migran

Terbagi menjadi tiga kategori yaitu :

    1. Karakteristik Demografi
    2. Pendidikan
    3. Ekonomi

BAB III

PEMBAHASAN

Migrasi adalah perpindahan tenaga kerja dari daerah pedesaan ke kota-kota. Karena perekonomian pedesaan didominasi oleh sektor pertanian dan perekonomian diperkotaan memusatkan kegiatannya pada industrialisasi, maka kemajuan perekonomian secara keseluruhan di negara-negara maju dicirikan oleh adanya proses realokasi yang berlangsung secara bertahap dari sector pertanian ke sektor industri melalui migrasi dari desa ke kota, baik dalam skala internal (domestik) maupun skala intrnasional.

Berdasarkan kenyataan kita tidak bisa lagi memandang arus perpindahan tenaga kerja dari desa ke kota sebagai faktor yang positif untuk mangatasi kelebihan permintaan tenaga kerja diperkotaan. Sebaliknya migrasi harus dilihat sebagai sebuah faktor negatif yang menyebabkan surplus tenaga kerja perkotaan secara berlebihan serta sebagai suatu kekuatan yang secara terus menerus memperburuk masalah pengangguran diberbagai daerah perkotaan yang pada awalnya bersumber dari ketidak seimbangan struktural dan ekonomi antara daerah perkotaan dan pedesaan yang secara landsung memperburuk permintaan dan penawaran. Arti penting yang paling pokok atas fenomena migrasi di negara-negara berkembang tidaklah terletak pada bentuk-bentuk prosesnya atau pada dampaknya terhadap alokasi sektoral sumber daya manusia, melainkan lebih terletak pada implikasi-implikasi negative yang selalu ditimbulkan terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi dan upaya-upaya pembangunan secara keseluruhan, terutama yang termanifestasikan atau terwujud sebagai proses terus memburuknya distribusi pendapatan atau hasil-hasil pembangunan.

Proses migrasi cenderung akan mempengaruhi atau bahkan mengubah pola distribusi pendapatan dan bahkan besar kecilnya tingkat pertumbuhan penduduk, karena migrasi merupakan suatu proses yang secara selektif mempengaruhi setiap individu dengan ciri-ciri ekonomi, sosial, pendidikan dan demografi tertentu, maka pengaruhnya secara relatif terhadap faktor-faktor ekonomi maupun nonekonomi dari masing-masing individu akan bervariasi. Migrasi dari karakteristik demografi dinegara-negara berkembang cenderung terdiri dari para pemuda yang berumur 15-24 tahun. Berbagai studi di Asia dan Afrika telah menunjukkan bukti-bukti kuantitatif seperti : Kenya, Tanzania, India Thailand dll. Proporsi yang banyak melakukan migrasi adalah kaum wanita, yang pertama adalah migrasi wanita sebagai “pengikut” yang tediri dari isteri dan anak perempuan yang mengikuti suami atau ayahnya, dan yang kedua adalah migrant wanita “solo” atau sendirian yakni melakukan migrasi tanpa disertai oleh siapapun. Tipe inilah yang sekarang terus bertambah dengan cepat. Dari segi karakteristik pendidikan tampak ada korelasi yang nyata antara taraf pendidikan yang diselesaikan dengan kemungkinan atau dorongan personal untuk melakukan migrasi (propensity ti migrate).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: